Tetapi setiap orang juga pasti mempunyai cara yang
berbeda-beda untuk menyikapi hal tersebut. Ada dua tipe orang tentang bagaimana
dia menanggapi sesuatu yang tidak diinginkannya terjadi. Orang yang pertama
adalah Orang yang menanggapinya dengan emosi tinggi yang keluar secara spontan.
Pernahkah kita mengalami sesuatu yang sangat tidak kita
inginkan terjadi?, saya yakin kalian pasti pernah mengalaminya. Dan kebanyakan
emosi kita akan secara otomatis meningkat dan tidak sedikit pula oang tersebut
secara spontan langsung bermain fisik dengan lawannya.
Hal tersebut sebenarnya dapat dibilang manusiawi, karena
setiap orang pasti akan selalu menginginkan semua keinginannya terwujud/terjadi.
Dengan begitu kita akan merasa puas dan senang.
Dan yang kedua adalah orang yang dapat menerima kejadian tersebut dengan
lapang, atau dapat dikatakan orang tersebut selalu berfikir positif akan apa
yang terjadi terhadapnya. Dan hal tersebut diyakini kebanyakan orang dapat
memberikan kesehatan. Apakah benar demikian …?
Hmmmmmm………
Sebenarnya apakah kalian mengetahui sesuai dengan riset membuktikan bahwa berpikir positif hanya
berfungsi pada orang yang sudah lebih dulu memiliki rasa menghargai diri
sendiri yang besar. Dan hal tersebut akan dapat meningkatkan kepercayaan diri,
kebahagiaan dan bahkan mencegah penyakit-penyakit mental seperti depresi.
Tetapi makna dari
positif thinking banyak disalah artikan seperti yang diungkapkan Associate
Professor, Anthony Grant dari Universitas Sydney yang mengatakan istilah
‘berpikir positif’ atau "positive thinking" telah diterjemahkan
secara keliru dan bahkan orang sering salah memahaminya.
Kebanyakan orang
sering kali mengartikan “Positive Thinking” itu selalu memasang wajah gembira
dan selalu menganggap baik, padahal untuk sebenarnya tidak ingin melakukan.
Mengenai hal
tersebut Associate Professor Grant memperingatkan bahwa mencoba untuk menjadi
orang yang secara terus menerus bersikap optimistis tentang kehidupan itu
sangat tidak realistis dan akan membuat semuanya lebih runyam.
Beliau mengatakan,"Cara pikir
seperti itu tidak tepat. Jika orang tidak membiarkan dirinya berpikir tentang
masalah atau kesedihan atau bentuk emosi lainnya selain kebahagiaan maka sikap
seperti itu tidak akan membantu sama sekali, Dalam masa-masa sulit didalam
hidup kita, yang kita perlukan adalah membiarkan diri kita berduka dan
merasakan beragam emosi, karena itu merupakan bagian alami dari proses penyembuhan”.
Dalam
sebuah riset pada tahun 2009 disimpulkan bahwa
pernyataan positif pada diri sendiri hanya berfungsi memperbaiki mood dan
kebahagiaan orang yang sudah lebih dahulu memiliki penghargaan terhadap diri
sendiri (self esteem) yang tinggi. Jika dia mempunyai self esteem yang rendah
maka akan terjadi sebaliknya. "Jadi paradok dari berpikir positif adalah
kalau itu bermanfaat, tapi hanya bagi orang-orang yang tidak memerlukannya,”
kata Profesor Grant.
Sementara itu
Psikolog Suzy Green, dari Positivity Institute, memperingatkan melihat dunia
dari kacamata kuda bisa membahayakan. Menurut Dr Green memiliki pikiran negatif
adalah hal yang normal apalagi dalam situasi menantang atau keluar dari zona
nyaman dan berusaha untuk selalu menghindari pikiran yang negatif
secara umum hal itu tidak produktif.
Dia mengatakan, “Hal itu dapat terjadi
terutama pada situasi beresiko tinggi seperti duka yang teramat menyakitkan,
dimana orang bisa berpotensi menyangkal kondisi yang dialaminya dan tidak
mencari pertolongan yang dibutuhkan”.
"Bukan berarti Anda tidak boleh memiliki
pikiran negatif, tapi Anda hanya tidak boleh selalu mempercayainya dan
terkadang perlu memutuskan utnuk berpikir berbeda dan lebih optimistis mengenai
situasi yang dihadapi”
Dr Suzy Green mengatakan riset
menunjukan orang-orang yang bersikap optimistis dan penuh harap memiliki
kehidupan mental yang jauh lebih bagus.
Sementara Associate Professor Grant
mengatakan menetapkan tujuan hidup yang bermakna dan berusaha untuk
menggapainya merupakan salah satu cara terbaik untuk mengubah bias atensi anda
dan memperbaiki kesehatan mental Anda.
"Kenali apa tujuan yang hendak
kamu capai, " katanya.
"Lalu tanyakan pada diri sendiri
pikiran, perasaan dan sikap seperti apa yang perlu Anda miliki untuk mencapai
tujuan tersebut. Bagaimana Anda akan membangun struktur dan perubahan pada
lingkungan Anda untuk meraih tujuan tersebut.
"Hal semacam itu merupakan cara
berpikir yang lebih bermanfaat menyadari diri sendiri mengenai cara berpikir
terlepas itu positif atau negatif,"
Dia juga merekomendasikan agar orang menulis daftar segala hal yang membuat Anda bersyukur setiap hari - bahkan jjika hal itu hal yang sepele,"
"Luangkanlah waktu diakhir hari
untuk menapresiasi apa yang sudah Anda lakukan,"
"Menulis pengalaman semacam itu
akan sangat membantu orang untuk mampu mengontrol perasaan mereka,"
0 comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah membaca blog saya, silahkan tinggalkan komentar