Monday, October 12, 2015

Benarkah “Positive Thinking” Menyehatkan…??


Tetapi setiap orang juga pasti mempunyai cara yang berbeda-beda untuk menyikapi hal tersebut. Ada dua tipe orang tentang bagaimana dia menanggapi sesuatu yang tidak diinginkannya terjadi. Orang yang pertama adalah Orang yang menanggapinya dengan emosi tinggi yang keluar secara spontan. 



Pernahkah kita mengalami sesuatu yang sangat tidak kita inginkan terjadi?, saya yakin kalian pasti pernah mengalaminya. Dan kebanyakan emosi kita akan secara otomatis meningkat dan tidak sedikit pula oang tersebut secara spontan langsung bermain fisik dengan lawannya.

Hal tersebut sebenarnya dapat dibilang manusiawi, karena setiap orang pasti akan selalu menginginkan semua keinginannya terwujud/terjadi. Dengan begitu kita akan merasa puas dan senang.

 Dan yang kedua adalah orang yang dapat menerima kejadian tersebut dengan lapang, atau dapat dikatakan orang tersebut selalu berfikir positif akan apa yang terjadi terhadapnya. Dan hal tersebut diyakini kebanyakan orang dapat memberikan kesehatan. Apakah benar demikian …? 

Hmmmmmm………                                                                                          

Sebenarnya apakah kalian mengetahui sesuai dengan riset membuktikan bahwa berpikir positif hanya berfungsi pada orang yang sudah lebih dulu memiliki rasa menghargai diri sendiri yang besar. Dan hal tersebut akan dapat meningkatkan kepercayaan diri, kebahagiaan dan bahkan mencegah penyakit-penyakit mental seperti depresi.

Tetapi makna dari positif thinking banyak disalah artikan seperti yang diungkapkan Associate Professor, Anthony Grant dari Universitas Sydney yang mengatakan istilah ‘berpikir positif’ atau "positive thinking" telah diterjemahkan secara keliru dan bahkan orang sering salah memahaminya. 

Kebanyakan orang sering kali mengartikan “Positive Thinking” itu selalu memasang wajah gembira dan selalu menganggap baik, padahal untuk sebenarnya tidak ingin melakukan.

Mengenai hal tersebut Associate Professor Grant memperingatkan bahwa mencoba untuk menjadi orang yang secara terus menerus bersikap optimistis tentang kehidupan itu sangat tidak realistis dan akan membuat semuanya lebih runyam.

Beliau mengatakan,"Cara pikir seperti itu tidak tepat. Jika orang tidak membiarkan dirinya berpikir tentang masalah atau kesedihan atau bentuk emosi lainnya selain kebahagiaan maka sikap seperti itu tidak akan membantu sama sekali, Dalam masa-masa sulit didalam hidup kita, yang kita perlukan adalah membiarkan diri kita berduka dan merasakan beragam emosi, karena itu merupakan bagian alami dari proses penyembuhan”.

Dalam sebuah riset pada tahun 2009 disimpulkan bahwa pernyataan positif pada diri sendiri hanya berfungsi memperbaiki mood dan kebahagiaan orang yang sudah lebih dahulu memiliki penghargaan terhadap diri sendiri (self esteem) yang tinggi. Jika dia mempunyai self esteem yang rendah maka akan terjadi sebaliknya. "Jadi paradok dari berpikir positif adalah kalau itu bermanfaat, tapi hanya bagi orang-orang yang tidak memerlukannya,” kata Profesor Grant.

Sementara itu Psikolog Suzy Green, dari Positivity Institute, memperingatkan melihat dunia dari kacamata kuda bisa membahayakan. Menurut Dr Green memiliki pikiran negatif adalah hal yang normal apalagi dalam situasi menantang atau keluar dari zona nyaman dan berusaha untuk  selalu menghindari pikiran yang negatif  secara umum hal itu tidak produktif.

Dia mengatakan, “Hal itu dapat terjadi terutama pada situasi beresiko tinggi seperti duka yang teramat menyakitkan, dimana orang bisa berpotensi menyangkal kondisi yang dialaminya dan tidak mencari pertolongan yang dibutuhkan”.

"Bukan berarti Anda tidak boleh memiliki pikiran negatif, tapi Anda hanya tidak boleh selalu mempercayainya dan terkadang perlu memutuskan utnuk berpikir berbeda dan lebih optimistis mengenai situasi yang dihadapi”

Dr Suzy Green mengatakan riset menunjukan orang-orang yang bersikap optimistis dan penuh harap memiliki kehidupan mental yang jauh lebih bagus.

Sementara Associate Professor Grant mengatakan menetapkan tujuan hidup yang bermakna dan berusaha untuk menggapainya merupakan salah satu cara terbaik untuk mengubah bias atensi anda dan memperbaiki kesehatan mental Anda.

"Kenali apa tujuan yang hendak kamu capai, " katanya.

"Lalu tanyakan pada diri sendiri pikiran, perasaan dan sikap seperti apa yang perlu Anda miliki untuk mencapai tujuan tersebut. Bagaimana Anda akan membangun struktur dan perubahan pada lingkungan Anda untuk meraih tujuan tersebut.

"Hal semacam itu merupakan cara berpikir yang lebih bermanfaat menyadari diri sendiri mengenai cara berpikir terlepas itu positif atau negatif,"

Dia juga merekomendasikan agar orang menulis daftar segala hal yang membuat Anda bersyukur setiap hari - bahkan jjika hal itu hal yang sepele,"

"Luangkanlah waktu diakhir hari untuk menapresiasi apa yang sudah Anda lakukan,"

"Menulis pengalaman semacam itu akan sangat membantu orang untuk mampu mengontrol perasaan mereka,"

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca blog saya, silahkan tinggalkan komentar